Friday, June 21, 2013

Ketuban Oh Ketuban...

 Assalamualaikum...

Alhamdulilaah, ternyata masih bisa menulis di blog ini ya..huehue, bagaimana kabar bumil kali ini...yup...mungkin banyak kisah yang terlewati beberapa bulan belakangan ini. Jarang menulis lagi karena tiga bulan kemarin, saya harus bedrest total. Wow what's happen kok bisa bedrest..?

Harapan dan perjuangan itu dimulai saat usia kandunganku 26 minggu. Tepat pukul 10.00 WIB,  hari selasa awal April, saat sedang mengerjakan tugas di depan komputer seperti sekarang, tiba-tiba air keluar dan mengalir di kedua pahaku. Cairan berwarna putih dan tidak berbau. Awalnya saya pikir itu air pipis, soalnya saat itu emang agak kebelet, hehe. Tapi karena masih khawatir akhirnya saya telepon mama di rumah sakit, dan respon mamah saat itu "haa, aduh teteh itu air apa, jangan-jangan air ketuban, ya udah tungguin mamah pulang sekarang ya". Saat mendengar air ketuban, jujur kaget juga sie, ah masa dede udah mau keluar, ini kan belum saatnya, secara masih 6,5 bulan khan. Tapi aku berusaha tenang dan ngga panik.

Mamah akhirnya tiba di rumah, dan langsung mengantarku ke rumah sakit. Kebetulan sekali dokter Dini yang biasa memeriksaku sejak 6 minggu kehamilan, sedang berada di Belanda. Akhirnya di pindah deh ke dokter lain yang ada saat itu, dokter Zulva. Setelah menceritakan kejadiannya, dokter Zulva menyuruhku untuk buka celana, daan diperiksalah miss V ku sampai dalem, pake alat yang entah apa namanya, tapi sueer deh rasanya ngga enak bangeetss. Karena tegang, saat alat itu mau dilepas, miss V ku malah berdarah. Heuu pokoknya ngga enak dan ngga nyaman, rasanya pingin nangis. Lalu dokter Zulva mengatakan bahwa, yup, cairan yang keluar itu adalah cairan ketuban. Humm kembang kempis mendengarnya.

Dokter menyarankan untuk dirawat di UGD selama tiga hari dan di observasi lebih lanjut. Besoknya kembali lagi ke rumah sakit dan dimulailah perawatan. Selama perawatan, dokter selalu memantau detak jantung bayiku (CTG). Alhamdulilah keadaannya masih sehat, dan tidak ada kontraksi. Hanya saja ada satu dokter, lupa namanya. hee, yang mengungkapkan pendapatnya pada kami semua, bahwa jika ketuban pecah dini, biasaya resiko untuk terkena infeksi lebih besar, dan bisa saja persediaan ketubannya menipis karena bocor. Jika hal ini terjadi maka, disarankan bayi dikeluarkan meskipun belum waktunya, atau tinggal pilih saja, kehilangan ibunya karena akan sama-sama terkena infeksi, atau bayinya sebelum terlambat. Haaaa subhanalllah yaa, ucapan dokter itu seperti petir di siang bolong. Suami ku saja wajahnya sampai pucat, hihihi.

Setengah lemas dan pasrah, ku pandangi perutku dan berusaha berkomunikasi dengan dede bayi. "Dede sayang, dede ngga akan keluar sekarang khan, mamah masih mau jagain dede sampai nanti 9 bulan, dede sehat ya, yang kuat ya sayang, hati-hati ya di dalam sana, semoga tidak terjadi infeksi dan ketubannya cukup ya sayang". Aku bertekad kuat, akan kupertahankan dede sampai selamat pokoknya, kalau bisa, biar ketubannya ngga keluar lagi.

Akhirnya tanya sana-sini, searching, sampai kumenemukan pengalaman seorang ibu yang juga mengalami hal yang sama, bahkan ia KPD (Ketuban Pecah Dini) dari usia 9 minggu, namun dengan bedrest total dan benar-benar menjaga makanan yang sehat, akhirnya bayinya bisa bertahan hingga lahir di usia 36 minggu dengan ketuban yang masih cukup jumlahnya dan tidak sempat berubah warna..woww sugoii..
Dari cerita itu, akhirknya aku punya semangat lagi untuk terus berpikiran positif, dan insya allah dede pasti selamat.

Selama tiga hari dirawat di UGD, dokter menyatakan kalau ketubanku tidak keluar lagi dan jumlahnya masih banyak, aku juga sudah diperbolehkan untuk pulang. Saran dokter aku harus istirahat total (bedrest) di rumah, tidak boleh banyak beraktiftas, berjalan hanya boleh ke kamar mandi saja, yang lainnya dilakukan di atas tempat tidur. *melepeerr*, but its okay demi dede yaa...apapun ku lakukan hehe. Perawatan yang aku dapatkan di rumah sakit selama tiga hari itu, selain di observasi detak jantung dan air ketuban, sempat tiga kali aku di suntik, kata dokter ini hanyalah penguat paru-paru saja buat dede, jika memang ternyata dede harus dikeluarkan sebelum waktunya, dan tidak ada efeknya. Wokee, nurut saja deh, lagipula sudah diperbolehkan untuk pulang.

Bedrest total tiga bulan di rumah itu rasanya, umm boring yaa..makan, minum, sholat lima waktu, semuanya di tempat tidur. Selain itu asupan makanan juga sangat dijaga, dari telur (makan 3x sehari), susu, air kelapa muda, vitamin, sari kurma dan madu, ikan-ikanan, sayuran, haa sudah menjadi santapan tiap hari. Ampe eneg makan telur tiap hari. Hahaha...Sampai-sampai nie, thesis ku keteteran. Gimana mau ngetik, duduk lama aja ngga boleh, yang ada pembesaran badan dimana-mana, gkgkgk. Sekalinya jalan itu, kalau chekc up ke rumah sakit saja, dan alhamdulilaah dokter Dini sudah pulang, yeaayy. Dokter sempet kaget juga saat aku ceritakan bahwa aku KPD dan dirawat, hee. Beliau bilang, gpp kok, ketubannya masih aman, jumlahnya masih cukup, detak jantung dede pun sehat...alhamdulilah. Dokter Dini pulang bikin aku tambah senang..hehe. Oiya Dokter Dini membawa oleh-oleh informasi dari Belanda, bahwa di sana sudah ada teknologi yang lebih canggih, sehingga ibu hamil yang mengalami ketuban pecah dini, kandungannya bisa bertahan hingga ya minimal 30 minggu, dengan menggunakan selang yang sudah diisi NHCL (senyawa pengganti ketuban mungkin ya), dan disuntikkan ke dalam perut ibu. Sayangnya di Indonesia belum ada teknologi seperti itu, sehingga kita masih menggunakan metode tradisional saja, salah satunya ya dengan bedrest total dan banyak minum, hehehe.

Untuk ibu-ibu yang mungkin pernah mengalami hal yang sama..tetap optimis ya, percayakanlah semuanya pada Tuhan dan juga ajak bayi kita untuk selalu positif...karena mereka pun sudah bisa diajak kerjasama loh bun meski masih dalam perut...huehuehue.

Begitulah guys, ceritaku bersama sang ketuban selama tiga bulan ini...perjuangan tiada tara menajdi seorang ibu ya. Dan terima kasih banyak pada Allah, yang masih memberiku kesempatan, hingga akhirnya sekarang usia kandunganku sudah menginjak 38 minggu. Perjuangan dimulai lagi, penantian 9 bulan, kini sedang diujung puncaknya, menanti mu lahir adalah suatu anugerah dan kebahagiaan terbesar bagi kami berdua...

Tralalalalaa dan inilah perutku....

32 weeks pregnancy



Tak sabar kami menunggu dan ingin mencium wajahmu nak....mmmuaach....
.....we are waiting for you now...semoga selalu dilancarkan dan dimudahkan ya nak, sehat selalu....mami...pipi....Love :) 

Note: Guys, ketuban itu sangat penting bagi kehidupan janin, karena janin sudah bisa meminum air ketuban dalam perut. Jika jumlah air ketuban berkurang atau misalnya terkena infeksi...bisa mengancam perkembangannya....
Salah satu hal yang bisa membuat terjadinya KPD (Ketuban Pecah Dini) adalah adanya infeksi, dan infeksi itu bisa disebabkan oleh kondisi miss v, misalnya keputihan yang tdk normal, goncangan, benturan, atau faktor psikologis ibu yg sedang mengandung.
Saat ibu hamil stress maka tubuh akan mengeluarkan hormon kortisol, jika dlm jumlah banyak, hormon ini dapat mengganggu imune sistem sang ibu, yang pada akhirnya memunculkan infeksi. Infeksi inilah yang mungkin menyebabkan ketuban pecah dini.

Mau tau relasi antara stress dan kehamilan klik link ini ya...http://www.marchofdimes.com/pregnancy/stress-and-pregnancy.aspx

So that's why...jangan stress berkepanjangan saat hamil dan orang2 disekelilingnya harus menjaga supaya ia tidak stress...hehehe...^^

No comments: